Perlengkapan Kedokteran

Apa saja alat-alat yang ada dipoli THT?

Apa saja alat-alat yang ada dipoli THT?

 

Di bangku perkuliahan Fakultas Kedokteran, Kamu pasti akan melewati stase khusus yang membahas anatomi dan penyakit pada area kepala dan leher. Siapa nih di antara Kamu yang sudah punya cita-cita ingin melanjutkan pendidikan ke jenjang spesialis THT-BKL (Telinga Hidung Tenggorok - Bedah Kepala Leher)?

Menjadi dokter spesialis THT berarti Kamu akan memiliki keahlian khusus dalam mendiagnosis, mengobati, hingga melakukan tindakan operatif pada gangguan pendengaran, sinus, pita suara, hingga kelainan di area kepala dan leher. Saat nanti Kamu menjalani Skill Lab (SL) atau masuk ke stase kepaniteraan klinik (koas) di Poliklinik THT, Kamu akan dihadapkan dengan seperangkat "alat tempur" spesifik yang bentuknya cukup unik.

Agar Kamu tidak bingung dan salah sebut nama alat di depan dokter konsulen saat ujian OSCE, yuk kita bedah satu per satu alat-alat yang wajib ada di Poliklinik THT!

 

1. LED Headlamp (Lampu Kepala) 

Berbeda dengan poliklinik lain yang cukup mengandalkan lampu ruangan, dokter THT wajib menggunakan LED Headlamp. Alat bantu penerangan yang diikatkan di kepala ini berfungsi untuk memberikan cahaya koaksial (searah dengan pandangan mata dokter) agar bisa menerangi rongga-rongga gelap dan sempit, seperti liang telinga, lubang hidung, dan rongga mulut, sambil membiarkan kedua tangan dokter bebas melakukan tindakan medis.

 

2. Diagnostic Set 

Ini adalah "kotak sakti" yang berisi set perlengkapan dasar diagnostik THT. Biasanya, dalam satu koper kecil Diagnostic Set premium sudah mencakup battery handle (gagang berisi baterai sebagai sumber daya), kepala otoscope, beberapa ukuran ear speculum, nasal speculum, laryngeal mirror, hingga pemegang tongue spatel.

 

3. Otoscope (Otoskop) dan Spekulum Telinga 

Otoskop adalah instrumen optik yang dilengkapi kaca pembesar dan lampu cahaya. Dokter menggunakan otoskop yang ujungnya dipasangi ear speculum (corong telinga) untuk melihat kondisi Liang Telinga Luar (KAE) dan Membran Timpani (gendang telinga). Dari alat inilah Kamu bisa mendiagnosis adanya infeksi (Otitis Media), perforasi (gendang telinga robek), atau tumpukan kotoran telinga.

 

4. Garpu Tala (Tuning Fork) 

Bentuknya menyerupai huruf 'Y' berbahan logam yang akan beresonansi pada frekuensi tertentu bila dihentakkan. Fakta Medis: Meski dalam draf dibilang 440 Hz, standar baku Gold Standard garpu tala untuk tes pendengaran medis (Tes Rinne, Weber, dan Schwabach) adalah 512 Hz. Frekuensi 512 Hz dipilih karena berada pada rentang frekuensi percakapan manusia dan getarannya benar-benar murni menguji fungsi pendengaran, bukan menguji sensori getar tulang seperti pada frekuensi rendah (128 Hz atau 256 Hz).

 

5. Spekulum Hidung (Nasal Speculum / Thudicum) 

Alat berbahan stainless steel ini memiliki gagang yang bekerja mirip kebalikan dari gunting (saat ditekan, corongnya akan membuka). Spekulum hidung dimasukkan ke dalam lubang hidung anterior untuk melebarkannya, sehingga dokter bisa melihat kondisi mukosa hidung, konka yang membesar (hipertrofi), atau kondisi tulang rawan pemisah hidung (deviasi septum).

 

6. Tampon Tang (Bayonet Forceps) 

Bentuknya panjang dan memiliki sudut melengkung seperti bayonet. Sudut ini didesain khusus agar tangan dokter yang memegang alat tidak menghalangi pandangan mata ke dalam rongga hidung. Alat ini utamanya digunakan untuk memasukkan atau mencabut tampon hidung (nasal packing) saat menangani pasien mimisan (epistaksis) yang parah.

 

7. Spatula Lidah (Tongue Depressor) 

Ini adalah alat wajib untuk memeriksa tenggorokan (orofaring). Terbuat dari kayu (sekali pakai) atau logam stainless (bisa disterilisasi), alat ini digunakan untuk menekan punggung lidah ke bawah. Dengan begitu, dokter bisa melihat dengan jelas kondisi amandel (Tonsil T1-T4), uvula, dan dinding belakang faring pasien.

 

8. Kaca Laring (Laryngeal Mirror) 

Alat ini berbentuk cermin bulat kecil bergagang panjang. Fungsinya adalah untuk pemeriksaan Laringoskopi Indirek (melihat kondisi pita suara dan laring dari pantulan kaca). Ukurannya bervariasi, mulai dari ukuran terkecil nomor 00 hingga nomor 10 (sekitar 30 mm). Life hack: Sebelum dimasukkan ke mulut pasien, kaca ini biasanya dilewatkan sebentar di atas api spiritus agar hangat, sehingga permukaannya tidak berembun saat terkena napas pasien!

 

9. Cerumen Hook (Pengait Serumen) 

Kotoran telinga (serumen) yang sudah mengeras atau menyumbat total (serumen prop) tidak boleh dibersihkan menggunakan cotton bud karena malah akan terdorong makin ke dalam! Dokter menggunakan Cerumen Hook (pengait tumpul) untuk menyelinap ke belakang gumpalan kotoran, lalu menariknya keluar secara utuh tanpa melukai dinding liang telinga.

 

10. Pinset Telinga (Alligator Forceps / Cunam Telinga) 

Alat ini memiliki moncong penjepit yang sangat kecil dengan gagang panjang yang menyudut, persis seperti rahang buaya. Pinset ini sangat efektif untuk mengambil benda asing (corpus alienum) seperti manik-manik, serangga kecil, atau kapas yang tertinggal jauh di kedalaman liang telinga pasien.

 

Siapkan "Senjata" THT-mu dari Sekarang!

Bagaimana, sudah mulai kebayang serunya melakukan simulasi pemeriksaan telinga, hidung, dan tenggorokan? Mengingat anatomi THT ini sangat sempit dan butuh ketelitian visual yang tinggi, Kamu tidak bisa mengandalkan alat peraga yang berkualitas buruk saat latihan Skill Lab.

Buat Kamu yang ingin mulai menyicil kelengkapan Diagnostic Set, Garpu Tala 512 Hz, atau Spatula Lidah berbahan logam antikarat untuk persiapan stase THT, nggak perlu bingung cari ke mana-mana.

 

Paket Lengkap THT / Telinga Hidung Tenggorokan [THT Set + Headlamp + Otoskop + Garpu Tala] - Medtools

Rp 391.000

-13%

Rp 340.170 Terjual: 0

 

 

 

Penulis Asli: Andika Chris Ardiansyah

Peninjau: dr. Stellon Salim

 

Daftar Pustaka

Bickley LS, Szilagyi PG, Hoffman RM. (2021). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.

Dhingra PL, Dhingra S. (2014). Diseases of Ear, Nose and Throat & Head and Neck Surgery (6th ed.). Elsevier.

Soepardi EA, Iskandar N, Bashiruddin J, Restuti RD. (2012). Buku Ajar Ilmu Kesehatan Telinga Hidung Tenggorok Kepala & Leher (Edisi Ke-7). Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia.

 

 

Bagikan Artikel: