Halo! Balik lagi bareng Medi. Saat Kamu mulai memasuki masa kepaniteraan klinik alias koas, salah satu "seragam tempur" yang akan paling sering menempel di badanmu setiap hari adalah baju scrubs atau seragam jaga medis. Sebagai tenaga kesehatan yang berada di garda terdepan rumah sakit, melindungi diri dari paparan cairan tubuh pasien dan bakteri patogen adalah harga mati yang tidak bisa ditawar.
Namun, baju scrubs bukan sekadar alat pelindung diri. Seragam ini akan menemani jam kerjamu yang panjang, mulai dari berlari menangani pasien gawat darurat di IGD hingga tertidur di ruang jaga. Agar Kamu bisa bekerja dengan optimal tanpa merasa kegerahan atau kerepotan, pastikan baju scrubs pilihanmu memenuhi tiga prinsip utama ini:
Mari kita bedah satu per satu kriteria wajib ini agar Kamu tidak salah beli dan justru merasa tersiksa saat sedang menjalani stase jaga malam di rumah sakit!
Di lingkungan klinis, baju scrubs berfungsi sebagai lapisan penghalang pertama antara kulit Kamu dengan berbagai sumber infeksi di rumah sakit, atau yang biasa dikenal dengan infeksi nosokomial. Kamu akan berhadapan dengan banyak hal tidak terduga, mulai dari percikan darah saat operasi, tumpahan cairan infus, hingga paparan bakteri dari lingkungan bangsal perawatan.
Oleh karena itu, mengenakan pakaian sehari-hari atau kemeja biasa di area klinis sangat tidak dianjurkan. Selain pertimbangan kebersihan, seragam medis secara psikologis juga memberikan rasa percaya bagi pasien terhadap profesionalitas dokter yang merawatnya. Dengan jam kerja yang bisa menyentuh angka 24 jam nonstop, memilih seragam yang salah hanya akan menambah beban fisik dan stres mental Kamu saat bertugas.
Kriteria pertama dan yang paling penting adalah tingkat kenyamanan kain saat bersentuhan dengan kulit. Di rumah sakit, Kamu dituntut untuk selalu bergerak cepat. Kadang Kamu harus setengah berjongkok untuk memasang selang kateter, membungkuk saat memeriksa pasien di ranjang yang rendah, atau bahkan berlari menyusuri lorong saat ada panggilan darurat (kode biru).
Jika scrubs yang Kamu pakai terbuat dari bahan yang kaku, gerakan tubuhmu akan sangat terbatas dan Kamu berisiko merobek jahitan pakaianmu sendiri. Pastikan bahan kain memiliki sedikit kelenturan (stretch).
Selain lentur, bahan tersebut harus memiliki sirkulasi udara yang baik. Rumah sakit tidak selalu terasa dingin. Di tengah situasi panik atau saat Kamu harus melapisi scrubs tersebut dengan jas putih dokter (snelli) maupun gaun bedah berlapis, tubuh akan memproduksi banyak keringat. Material kain yang menyerap keringat dengan cepat akan mencegah pertumbuhan bakteri penyebab bau badan, sehingga Kamu tetap tampil segar dan percaya diri saat melakukan pemeriksaan visite bersama dokter konsulen.
Kriteria kedua adalah fungsionalitas desain, yang secara spesifik berarti jumlah dan letak kantong pakaian. Kehidupan seorang dokter muda saat stase sangat bergantung pada kelengkapan alat yang dibawa di badannya. Kamu tidak punya waktu untuk bolak-balik ke ruang jaga dokter hanya untuk mengambil alat periksa.
Sebuah scrubs yang ideal wajib memiliki banyak kantong yang proporsional di area dada, perut bawah, hingga di sisi celana (model celana kargo). Di kantong-kantong inilah Kamu akan menyimpan "nyawa" pendukung pekerjaanmu: stetoskop, senter medis (penlight), palu refleks, pulpen, buku catatan kecil, hingga ponsel pintar untuk berkoordinasi dengan perawat. Pastikan kedalaman kantong cukup aman agar barang-barang berharga dan alat medismu tidak mudah jatuh berceceran saat Kamu harus membungkuk memeriksa pasien.
Setelah melewati sif jaga yang panjang dan melelahkan, hal terakhir yang ingin Kamu lakukan saat pulang ke kos atau rumah adalah menggosok noda pakaian berjam-jam. Baju medis sangat rentan terpapar noda membandel, mulai dari tetesan cairan povidone-iodine (obat merah), keringat berlebih, percikan darah, hingga bulu hewan jika Kamu bertugas di klinik kedokteran hewan.
Pilihlah scrubs yang menggunakan perpaduan material khusus yang sifatnya menolak debu dan cairan (water-repellent). Material seperti ini sangat mudah dibersihkan. Cukup dimasukkan ke dalam mesin cuci dengan deterjen standar, noda akan cepat luntur. Selain itu, pastikan juga bahannya tidak mudah kusut (wrinkle-free) dan tahan terhadap pencucian bersuhu tinggi, karena sterilisasi kuman rumah sakit mutlak diperlukan. Baju yang cepat kering dan tidak butuh disetrika lama akan sangat menyelamatkan waktu istirahatmu yang sempit.
Memilih seragam medis adalah bentuk investasi nyata bagi kenyamanan dan kesehatanmu sendiri. Jangan sampai Kamu harus berulang kali membeli seragam baru karena bahan yang Kamu pilih cepat sobek, luntur, atau membuat kulit iritasi akibat gerah.
Buat Kamu yang sedang mempersiapkan diri masuk stase koas atau sekadar butuh tambahan seragam dinas harian yang berkualitas premium, Medtools punya solusinya. Kami menyediakan scrubs dengan material kain yang adem, lentur, punya banyak slot saku fungsional, dan pastinya sangat trendi saat dikenakan. Daripada bingung mencari ke sana kemari, langsung aja Hubungi WhatsApp Medtools di sini untuk mengecek ketersediaan warna dan ukuran yang paling pas untuk badanmu!
Hubungi Whatsapp Medtools di sini
Menjaga diri sendiri adalah langkah pertama sebelum Kamu bisa menyelamatkan nyawa orang lain. Pakaian pelindung seperti scrubs medis diciptakan secara khusus untuk mendukung ritme kerja tenaga kesehatan yang serba cepat dan rentan paparan infeksi. Pastikan Kamu selalu memperhatikan faktor kelenturan bahan, kelengkapan kantong celana maupun baju, serta kemudahan proses pencuciannya sebelum menjatuhkan pilihan. Dengan seragam jaga yang tepat, Kamu akan merasa lebih aman, nyaman, dan siap memberikan pelayanan medis terbaik kapan saja.
Penulis : Andika Chris Ardiansyah
Peninjau : dr. Stellon Salim
Weston D. Fundamentals of Infection Prevention and Control: Theory and Practice. 3rd ed. Chichester: John Wiley & Sons; 2022.
Taylor C, Lynn P, Bartlett JL. Fundamentals of Nursing: The Art and Science of Person-Centered Care. 9th ed. Philadelphia: Wolters Kluwer; 2019.
World Health Organization. Guidelines on core components of infection prevention and control programmes at the national and acute health care facility level. Geneva: World Health Organization; 2016.