Halo! Balik lagi bareng Medi. Menjalani pendidikan di Fakultas Kedokteran berarti Kamu sedang dilatih menjadi seorang "prajurit" kesehatan. Coba bayangkan, apa jadinya jika seorang prajurit maju ke medan perang tanpa membawa senjatanya? Pasti akan sangat kesulitan, bukan?
Sama halnya dengan mahasiswa kedokteran dan para dokter muda (koas). Alat kesehatan (alkes) adalah senjata utama kita untuk melakukan anamnesis, pemeriksaan fisik, mendiagnosis penyakit, hingga memantau kondisi pasien. Tanpa alat-alat ini, insting klinis kita tidak akan bisa divalidasi dengan data yang akurat.
Agar Kamu tidak bingung saat praktik Skill Lab atau saat jaga bangsal di rumah sakit nanti, yuk kenalan dengan 10 alat kesehatan yang akan terus Kamu pakai dari masa preklinik sampai lulus menjadi dokter!
Ini dia ikon utama seorang dokter! Stetoskop digunakan untuk auskultasi, yaitu mendengarkan suara dari dalam tubuh pasien. Alat ini memiliki earpiece yang masuk ke telinga pemeriksa, selang fleksibel (tubing), dan bagian chestpiece yang ditempelkan ke tubuh pasien. Dengan stetoskop, Kamu bisa mendengarkan detak jantung (mencari suara bising/murmur), suara napas paru-paru (seperti wheezing pada pasien asma), hingga suara bising usus di perut.
Tensimeter adalah alat untuk mengukur tekanan darah sistolik dan diastolik. Secara umum ada dua jenis: analog (jarum/aneroid) dan digital. Di masa pendidikan, Kamu diwajibkan mahir menggunakan tensimeter analog yang dipadukan dengan stetoskop untuk mendengarkan denyut nadi (Suara Korotkoff). Penguasaan alat ini sangat mutlak sebelum Kamu diizinkan memeriksa pasien asli!
Alat pengukur suhu tubuh ini sangat esensial untuk mendeteksi adanya demam (febris) akibat infeksi. Saat ini, ada berbagai jenis termometer yang digunakan di fasilitas kesehatan, mulai dari termometer digital ketiak (aksila) yang sangat akurat untuk rawat inap, hingga termometer tembak inframerah (thermogun) untuk screening cepat tanpa sentuhan.
Kalau Kamu sering ikut kepanitiaan Bakti Sosial (Baksos) medis di kampus, alat ini pasti sudah menjadi teman setiamu. Point of Care Testing (POCT) adalah alat kecil bertenaga baterai untuk mengecek profil darah dasar secara instan. Hanya dengan satu tetes darah pada strip khusus, Kamu bisa mengetahui kadar Glukosa (gula darah), Asam Urat, hingga Kolesterol pasien. Ingat, beda parameter yang dicek, beda pula jenis strip yang dimasukkan ke dalam mesin!
Berbentuk seperti penjepit kecil yang dipasangkan di ujung jari pasien. Oksimeter berfungsi untuk mengukur tingkat saturasi oksigen dalam darah (SpO2) dan denyut nadi secara real-time. Kadar oksigen normal berada di angka 95% - 100%. Alat ini sangat krusial di IGD untuk mendeteksi pasien yang mengalami hipoksia (kekurangan oksigen) seperti pada kasus pneumonia atau serangan asma berat.
Meskipun namanya "palu", alat ini ujungnya terbuat dari karet tebal yang empuk. Reflex hammer digunakan dalam pemeriksaan neurologi (saraf) untuk menguji refleks tendon dalam, seperti mengetuk lutut (KPR) atau siku (BPR). Respons ketukan ini akan membantu dokter mendeteksi apakah ada kelainan pada sistem saraf pusat atau saraf tepi pasien.
Senter kecil berbentuk pulpen ini adalah alat wajib di saku jas dokter! Penlight memancarkan cahaya yang fokus ke satu titik. Fungsinya bermacam-macam, mulai dari memeriksa refleks pupil mata terhadap cahaya (apakah mengecil dengan normal), hingga menerangi rongga-rongga gelap seperti bagian dalam mulut, tenggorokan, dan lubang hidung.
Alcohol swab adalah lembaran tisu atau kapas kecil yang sudah direndam dalam alkohol medis (biasanya Isopropyl Alcohol 70%) dan dikemas individual agar tetap steril. Fungsinya adalah untuk mendisinfeksi area kulit pasien sebelum dilakukan penyuntikan, pengambilan darah, atau pemasangan infus agar bakteri di permukaan kulit tidak ikut masuk ke dalam pembuluh darah.
Di stase bedah, Kamu harus punya alat ini! Minor set adalah seperangkat instrumen logam untuk melakukan tindakan bedah kecil (seperti menjahit luka atau hecting). Isi standarnya meliputi: gagang pisau bedah (scalpel handle), pinset anatomis (tanpa gigi), pinset sirurgis (bergigi), klem hemostat untuk menghentikan perdarahan, needle holder (pemegang jarum jahit), dan gunting benang.
Spuit digunakan untuk menyuntikkan cairan obat ke dalam tubuh pasien atau mengambil sampel cairan/darah dari tubuh pasien. Spuit memiliki berbagai ukuran volume yang disesuaikan dengan kebutuhan klinis, mulai dari spuit kecil 1 cc (untuk tes alergi/insulin), 3 cc dan 5 cc (untuk injeksi obat umum), hingga 10 cc atau 50 cc untuk membilas luka terbuka.
Itu dia 10 jenis alat kesehatan yang akan menjadi sahabat karibmu selama masa pendidikan dokter. Ingat, alat medis bukanlah pajangan; Kamu harus benar-benar berlatih menggunakannya agar tanganmu luwes saat bertemu pasien sungguhan.
Buat Kamu mahasiswa FK yang sedang mencari perlengkapan Skill Lab berkualitas tinggi yang awet dipakai sampai lulus koas, nggak perlu bingung! Kamu bisa mendapatkan Stethoscope, Tensimeter, Minor Set, hingga Penlight standar medis di MEDTOOLS STORE. Langsung aja Hubungi WhatsApp Medtools di sini untuk mengecek katalog lengkapnya dan dapatkan promo khusus untuk mahasiswa kedokteran!
Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini
Penulis Asli: Andika Chris Ardiansyah
Peninjau: dr. Stellon Salim
Bickley LS, Szilagyi PG, Hoffman RM. (2021). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.
Kementerian Kesehatan RI. (2020). Pedoman Standar Prosedur Operasional Keperawatan Bedah. Jakarta: Kemenkes RI.
Macleod, J., & Douglas, G. (2013). Macleod's Clinical Examination (13th ed.). Churchill Livingstone Elsevier.
World Health Organization (WHO). (2020). Oxygen Therapy and Inhalation Therapy in the Management of Respiratory Conditions.