Cara Pembalutan Luka untuk Pertolongan Pertama Gawat Darurat (PPGD)
Andika Chris Ardiansyah
13 March 2026
OSCE Preparation
Pada materi PPGD (Pertolongan Pertama Gawat Darurat), kamu pasti akan sering menemukan kasus luka terbuka, misalnya akibat kecelakaan lalu lintas, terjatuh, atau trauma benda tajam.
Maka dari itu, saat masa preklinik di Fakultas Kedokteran, kamu harus sering berlatih Clinical Skills Lab (CSL) mengenai teknik pembalutan (bandaging) untuk menutup luka terbuka. Tujuannya jelas: agar saat masuk masa stase bedah di koas nanti, kamu bisa memberikan pertolongan pertama yang cepat, tepat, dan aman bagi pasien.
Pada artikel ini, Medi akan kupas tuntas terkait prinsip dasar pembalutan, jenis-jenis pembalut, hingga teknik dasar menggunakan perban untuk menutup luka!
Prinsip Dasar Pembalutan dan Tekanan
Sebelum melakukan pembalutan, hal krusial yang harus kamu pahami adalah Derajat Tekanan (sub-bandage pressure). Ini adalah hasil tekanan yang diberikan oleh perban ke permukaan kulit/luka. Derajat tekanan ini sangat bergantung pada interaksi 4 faktor utama:
Struktur fisik dan keelastisan dari bahan pembalut.
Ukuran, keliling, dan bentuk ekstremitas (anggota gerak) yang dibalut.
Keterampilan dan tarikan tangan dari penolong yang melakukan pembalutan.
Bentuk aktivitas fisik yang dilakukan pasien setelah dibalut.
Agar mendapatkan derajat tekanan yang ideal, dunia medis menggunakan prinsip fisika yang diadaptasi dari Hukum Laplace. Rumus untuk menghitung tekanan di bawah balutan (sub-bandage pressure) adalah:
P = (T x n x 4620) / (c x w)Keterangan:
Keterangan
P = Tekanan sub-bandage (mmHg)
T = Tegangan tarikan perban (Tension dalam KgF)
n = Jumlah lapisan perban (number of layers)
c = Lingkar ekstremitas pasien (circumference dalam cm)
w = Lebar perban (width dalam cm)
4620 = Konstanta konversi pengukuran
Catatan Klinis: Rumus ini paling akurat saat awal pembebatan dilakukan. Seiring berjalannya waktu, kebanyakan pembalut akan kehilangan elastisitas secara perlahan sehingga tekanannya sedikit menurun. Intinya, tekanan berbanding lurus dengan tarikan/lapis perban, dan berbanding terbalik dengan diameter lengan/kaki pasien.
Secara umum, pembalutan memiliki 5 manfaat utama:
Menopang bagian tubuh yang cedera.
Menjaga bagian yang cedera agar tidak bergeser (imobilisasi).
Memberikan tekanan (kompresi) untuk menghentikan perdarahan atau meningkatkan laju darah vena (misal: perban elastis pada kaki bengkak).
Menutup luka agar terhindar dari kontaminasi bakteri luar (misal: luka pasca-operasi).
Memfiksasi bidai/belat pada kasus patah tulang.
Tipe-Tipe Pembalut (Bandage)
Pembalut luka memiliki banyak jenis. Pemilihannya harus disesuaikan dengan luas dan letak luka pasien:
Mitela (Pembalut Segitiga): Terbuat dari kain dengan panjang sisi dasar sekitar 50β100 cm. Sangat multifungsi untuk menyokong lengan yang patah (arm sling), membalut luka di kepala, bahu, atau dada.
Plester: Perban perekat siap pakai. Sering digunakan untuk menutup luka kecil, goresan ringan, atau untuk memfiksasi ujung perban dan kasa.
Kasa Steril (Gauze): Bantalan anyaman benang yang steril. Digunakan sebagai dressing utama yang menempel langsung pada luka terbuka untuk menyerap darah/eksudat serta menahan salep antibiotik. Butuh micropore (plester kertas) atau perban gulung agar bisa menempel.
Perban Elastis (Elastic Bandage): Sering disebut stretchable roller bandage, fungsinya memberikan kompresi pada luka untuk menghentikan perdarahan atau fiksasi sendi yang terkilir (sprain).
Perban elastis tersedia dalam berbagai ukuran lebar:
2,5 cm: Untuk jari tangan dan kaki.
5 cm: Untuk leher dan pergelangan tangan.
7,5 cm: Untuk kepala, lengan atas, area betis (fibula), dan telapak kaki.
10 cm: Untuk area paha (femur) dan pinggul.
10β15 cm: Untuk area dada, perut (abdomen), dan punggung.
Cara Melakukan Pembalutan PPGD
1. Hentikan Perdarahan & Bersihkan Luka
Jangan langsung membalut luka yang masih kotor! Jika ada kotoran yang tertinggal, risiko infeksi (sepsis) akan sangat tinggi.
Cuci tanganmu dan gunakan sarung tangan medis (handscoon).
Bersihkan area luka dengan cairan irigasi steril (seperti NaCl 0,9%) atau air mengalir. Gunakan pinset steril untuk mengambil krikil/kotoran yang menempel.
Jika terjadi perdarahan aktif, tekan sumber luka menggunakan kasa steril tebal (Dep luka) sebelum dibalut.
2. Pilih Teknik Pembalutan yang Tepat
Setelah luka ditutup bantalan kasa steril, gunakan perban gulung untuk memfiksasinya. Berikut 3 teknik dasar membalut yang wajib kamu kuasai:
Putaran Spiral (Spiral Turns): Digunakan untuk membalut bagian tubuh yang lurus dan memiliki diameter silinder yang seragam (misal: lengan atas). Tarik perban memutar ke atas secara miring dengan sudut Β±30 derajat. Setiap putaran baru harus menutupi 2/3 bagian dari putaran sebelumnya.
Putaran Spiral Terbalik (Spiral Reverse Turns): Digunakan untuk area tubuh berbentuk kerucut/diameter tidak sama, seperti betis yang berotot. Lakukan putaran miring ke atas (30 derajat). Letakkan ibu jari tangan kirimu di atas tepi atas perban untuk menahan, lalu lipat balik perban sejauh 14 cm (tangan kanan melakukan pronasi) sehingga perban menekuk ke bawah, lalu tarik memutar ke belakang tungkai. Ulangi pola lipatan ini ke atas.
Putaran Berulang (Recurrent Turns): Digunakan untuk menutup ujung tubuh (misal: ujung jari, telapak tangan, kepala, atau stump bekas amputasi). Lakukan putaran sirkuler 2 kali di area pangkal sebagai jangkar. Lalu, tarik perban melewati ujung/tengah jari hingga ke sisi bawah. Tahan dengan jari, lalu tarik kembali perban melewati ujung jari ke sisi atas namun sedikit menyamping ke kanan. Tarik lagi menyamping ke kiri. Pola ini dilanjutkan maju-mundur bergantian (kanan-kiri) hingga seluruh ujung tertutup. Akhiri dengan putaran sirkuler di pangkal untuk mengunci balutan.
Ingat: Pastikan ikatan perban kokoh namun tidak terlalu ketat hingga menghambat sirkulasi darah (selalu cek ujung jari pasien, pastikan tidak pucat/kesemutan).
Itu dia panduan lengkap cara pembalutan untuk PPGD. Jangan cuma dibaca, kamu wajib berlatih secara rutin menggunakan elastic bandage dan kasa steril agar tanganmu semakin luwes saat menangani berbagai bentuk luka!
[p]([Belum punya alat tempurnya? Tenang, kamu bisa mendapatkan perlengkapan perban, kasa, hingga hemostatic pad kualitas medis untuk latihan CSL langsung di @MEDTOOLS.ID. [atau Hubungi Whatsapp MEDTOOLS di sini!])
Thomas, S. (2003). The use of the Laplace equation in the calculation of sub-bandage pressure. World Wide Wounds.
Bickley, L. S., Szilagyi, P. G., & Hoffman, R. M. (2021). Bates' Guide to Physical Examination and History Taking (13th ed.). Wolters Kluwer.
American College of Surgeons. (2018). Advanced Trauma Life Support (ATLS) Student Course Manual (10th ed.). American College of Surgeons.
Dictio Community. (n.d.). Bagaimana cara melakukan pembebatan atau pembalutan yang baik?. Diakses dari https://www.dictio.id/t/bagaimana-cara-melakukan-pembebatan-atau-pembalutan-yang-baik/12079/2